SEKILAS INFO
: - Senin, 25-05-2020
  • 4 bulan yang lalu / Penerimaan Murid Baru Tahun Ajaran 2020/2021 dimulai Bulan Januari s.d.Juli 2020. Ayo buruan daftar !
7 Tips sukses mendidik anak oleh M Iwan Januar penulis novel best seller

sebelum membahas tentang tips dalam mendidik anak perlu kita ketahui terlebih dahulu bahwa anak adalah titipan Allah yang harus dijaga dan dididik. mendidik anak mungkin pada dasarnya adalah hal yang lumrah dilakukan oleh orang tua, namun sebagian orang tua berfikir keberhasilan pendidikan anak adalah dari nilai akademik padahal bukan itu inti dari penilaian sukses mendidik anak. nilai akademik hanyalah hasil penunjang belaka, sebaliknya akhlaq dan adab lah yang harus orang tua berikan kepada anak-anak. Anak-anak yang telah terbentuk akhlak dan adabnya akan membuat mereka siap dalam mengejar nilai akademik tanpa harus orang tua dorong  secara paksa.

menurut Ustadz iwan januar Orangtua dan guru punya satu kesamaan tupoksi (tugas pokok dan fungsi) yaitu mendidik. Bila orangtua mendidik anak kandung, maka guru mendidik murid – murid yang di amanahkan orangtua siswa. Memang banyak perbedaannya juga antara guru dan orangtua dalam kegiatan pendidikan ini ; dari segi durasi, kurikulum, dsb. Namun pendidikan tetaplah pendidikan, tetap membutuhkan kiat sukses yang sebelas dua belas. Tak jauh beda. Apa sajakah itu? ada 7 tips dari ustadz M Iwan Januar tentang cara mendidik anak antara lain :

  1. orangtua dan para guru harus bertakwa pada Allah. Mereka harus paham bahwa amal perbuatan mereka akan dihisab dan dibalas di akhirat. Dengan landasan takwa, orangtua dan guru akan berhati-hati menjalankan amanah pendidikan, tidak mencari popularitas dan materi, dan menjaga diri dari perbuatan tercela.
  2. Mendidiklah dengan hati ikhlas. Jadikan ridlo Allah sebagai tujuan tugas mendidik. Bukan harapkan ucapan terima kasih dari orangtua murid, atau agar dikenang murid, bahkan juga bukan untuk mengharap murid menjadi cerdas dan pintar. Tapi mendidiklah sebaik-baiknya karena menghayati tugas ini adalah tugas mulia dari Allah SWT.Mendiang KH Maimoen Zubair, ulama besar dari Rembang yang wafat di Tanah Suci berpesan,“Jadi guru tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar pada Allah. Didoakan saja terus menerus agar muridnya mendapat hidayah.”
  3. jangan mengharap pemberian dari anak didik atau orang lain. Terkadang ada orangtua yang mendidik anaknya agar kelak di masa depan anaknya sukses dalam karir atau usaha sehingga dapat menanggung hidup mereka di saat usia tua. Ini pemikiran keliru dalam dua hal; 1). Manusia tidak pernah tahu kadar rizki dan keadaan masa depan. Berapa banyak anak yang saat usia dewasa masih jadi tanggungan orangtua karena sakit keras atau Allah beri kadar rizki yang sedikit 2). Pemikiran semacam ini bisa menggugurkan pahala pendidikan yang kadarnya lebih mulia ketimbang pemberian dari anak.Pemberian dari anak didik atau orangtua mereka justru bisa menjatuhkan martabat para pendidik. Ada sebagian orang yang memberi hadiah kepada para pendidik guru ataupun dosen dengan tujuan agar anak mereka diperlakukan istimewa. Jadi pemberian itu punya pamrih. Akhirnya pendidik tidak bisa obyektif saat mengajar dan lebih buruk lagi menjadi orang berilmu yang diperbudak harta.
  4. orangtua dan pendidik harus memiliki karakter positif (adab mulia). Anak-anak dan siswa akan lebih menghormati guru yang beradab, menjadi teladan, meskipun kemampuan mengajar mereka biasa saja dibandingkan guru atau orangtua yang pintar tapi buruk perilakunya. Lebih jauh lagi, Allah amat murka pada orang yang mengajarkan kebaikan tapi ia sendiri tidak mengerjakan kebaikan tersebut.
  5. asih sayang adalah bekal yang harus dimiliki orangtua dan pendidik saat mengasuh anak-anak atau para siswa. Seorang ayah/ibu juga pendidik harus bisa memotivasi anak-anak, tidak mudah marah namun tegas, menyentuh perasaan mereka agar bertakwa pada Allah SWT dan sungguh-sungguh dalam belajar. Nabi SAW. adalah sosok orangtua, suami, dan pengajar yang penuh rahmah pada keluarga dan para sahabat. Beliau tidak marah ketika ada orang Arab Badui yang kencing di pojok mesjid lantaran ketidaktahuannya. Beliau juga bersabar ketika ada orang yang menarik sorban dari leher Beliau sehingga meninggalkan bekas guratan merah di lehernya.
  6. orangtua dan guru harus mengembangkan uslub mengajar tidak terpaku pada satu pola saja. Anak-anak dan para siswa bisa jenuh dan kehilangan semangat belajar jika mendapatkan cara pengajaran yang berulang-ulang. Orangtua dan guru bisa menggunakan uslub alat peraga, membawa anak dan siswa ke tempat yang menyenangkan seperti di taman, perpustakaan, mesjid, dsb. Atau bisa mengundang orang yang punya pengalaman menarik dan berilmu untuk berbagi pengetahuan dengan anak-anak dan para siswa.
  7. sedari awal wajib dipahami orangtua dan guru bahwa keberhasilan pendidikan adalah karunia dari Allah SWT. Maka keduanya harus banyak taqarrub pada Allah dengan berdoa dan ibadah-ibadah sunnah, serta tak lupa mendoakan anak-anak didik mereka agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat dan mendapatkan hidayah Allah SWT.“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (TQS. Al-Qashash/28 : 56)

diatas adalah beberapa tips dalam mendidik anak menurut ustadz M Iwan Januar. dikehidupan nyata orang tua dan guru memiliki beberapa permasalahan yang ada. Setelah survei dari beberapa pertanyaan orang tua sekitar mendidik anak, ada beberapa pertanyaan yang telah kami rangkum dan secara khusus langsung  dijawab oleh ustad M Iwan Januar sebagai berikut :

  • Bagaimana cara atau tips agar kita bisa sabar dalam menghadapi anak-anak  yang bandel, suka ribut, tidak bisa ditegur dengan baik-baik, yang dilakukan berulang kali? (Leta, Bengkulu)

bila anak-anak yang dimaksud adalah usia balita langkah yang dilakukan adalah kita sebagai orangtua harus ingat bahwa mereka masih fase anak-anak, belum paham baik dan buruk dan tata tertib atau adab pergaulan secara benar. Anak-anak usia balita masih mengandalkan insting, belum bisa berpikir secara utuh.
Maka, sebagai orangtua kita harus memahami ini, menempatkan mereka sebagai anak-anak agar kita dapat memaklumi tingkah polah mereka. Misalnya mencari tahu dulu apa penyebab mereka suka ribut, biasanya ada penyebabnya misalnya berebut mainan atau makanan. Maka kita coba untuk membagikan makanan atau mainan pada mereka secara adil.

Pada sebagian anak ada juga terbiasa ribut karena didiamkan terus menerus oleh orangtua mereka, artinya orangtuanya kurang peduli dengan tingkah polah anak, akibatnya mereka terbiasa ribut, berantakan, dan berkelahi dengan teman atau saudara.
Untuk kondisi seperti ini maka orangtua harus mulai menertibkan mereka, memberikan nasihat yang bisa dipahami dengan mudah, lalu memberi mereka pujian atau hadiah bila mereka bisa tertib. Dan ketika terlihat tanda mereka akan ribut maka segera mengingatkan mereka.

Mudah-mudahan bermanfaat

Namun demikian bukan berarti kita mendiamkan begitu saja, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan

 

  • bagaimana cara nya, agar dlam 1 keluarga bisa menjadi 1 tujuan dan menjalankan peran semaksimal mungkin?dan apa tips nya agar itu stabil setiap waktu…
    dan bagaimana cara megelolah rasa kesal yang tak tersmpaikan? (Popy, Bengkulu)

kunci keluarga bisa menjaga kebersamaan dalam mendidik anak adalah pada kedua orang tua. Oleh sebab itu ayah dan bunda harus sering diskusi bersama, mencari titik temu bukan perbedaan, mencari solusi dan bukan meributkan masalah.
Ayah dan bunda harus berusaha meluangkan waktu untuk melakukan ini. Tinggalkan gadget sejenak, untuk duduk berdua dan berbicara bersama.
Landasi keluarga dengan keimanan pada Allah, jadi kaitkan semua dengan pahala dan dosa. Tanamkan dalam diri kita bahwa keluarga dan anak-anak adalah titipan Allah, maka jalankan semua sesuai petunjuk Allah dan hanya mencari ridloNya.

Agar semakin kokoh, ayah dan bunda harus rutin ikuti kajian-kajian keislaman, menempa diri dengan agama secara berkesinambungan, dan menjadi contoh kebaikan untuk anak-anak

  • bagaimana ustadz tips kita agar anak belajar di sekolah mampu menerima pelajaran dengan maksimal? adakah adab nya ustadz?? orang tua terhadap anak,sekolah dan guru?

Kondisikan anak-anak agar siap belajar. Diantaranya, tepat usia. Belajar itu harus sesuai dengan usianya. Jangan memaksakan anak belajar bila belum usia tujuh tahun. Termasuk memaksakan anak harus bisa baca dan menulis serta berhitung. In sha Allah akan tiba waktu anak senang belajar.
Kedua, beri motivasi dan pujian yang pas. Jangan ditakut-takuti, dimarahi, ketika anak terlihat kurang semangat atau mendapat nilai kurang baik. Berikan penyemangat, pemakluman dan pujian.
Ketiga, berikan waktu istirahat yang cukup. Ada masanya anak juga butuh bermain dan istirahat, maka berikan yang cukup.
Keempat, ukuran keberhasilan belajar itu bukan nilai ya, bunda, tapi yang paling utama adalah anak semakin baik dalam akhlak, giat beribadah, dan semangat belajar.

  • ustad apa standar peranan ayah dan ibu dlam mendidik ank menjadi soleh n soleha?

Ayah bunda yang disayang Allah, ukuran atau standar anak kita soleh adalah taat pada Allah, berbakti pada orang tua, dan meninggalkan perkara yang diharamkan agama.
Bila ananda sudah mulai ingat shalat, tidak mau ketinggalan berjamaah, sayang pada orang tua, dan tidak mau mengambil barang milik orang lain, in sha Allah itu termasuk sebagian tanda kesalehannya.

Untuk itu kita, selaku orangtua juga harus taat pada Allah, karena perilaku anak adalah cerminan orangtua. Berilah keteladanan pada ananda agar mereka bisa tumbuh sebagai putra putri yang saleh salehah

  • bagaimana cara menghadapi anak yg mood an dalam belajar dan gimana cara mendidik anak lelaki yang benar?

Ayah bunda kesayangan Allah, sebagian jawaban soal pembelajaran anak sudah saya tulis di atas. Silakan disimak lagi.
Intinya, bagi waktu ananda untuk belajar dan bermain. Jangan ananda diforsir/dipaksa belajar terus menerus. Ia juga butuh waktu beristirahat dengan cukup.
Untuk itu ada baiknya ayahbunda memberi jadual belajar dan jadual bermain untuk ditaati bersama. Agar ananda tahu kapan saatnya belajar.

untuk atasi moodnya, ayahbunda harus bersabar ya, beri terus motivasi dan semangat, termasuk beri hadiah walau sederhana seperti sebatang coklat atau es krim, agar ia semangat. Bila ananda sudah terlihat letih belajar, maka istirahat saja dulu. Santai saja. Jangan ngoyo/memaksa buah hati belajar.
Begitu ya ayah bunda. Ayahbunda, pendidikan anak lelaki dan anak perempuan ada titik yang sama dan ada juga yang berbeda. Dalam hal yang berbeda maka bedakanlah, misalnya, anak lelaki harus dipahamkan hukum aurat dirinya juga aurat lawan jenis.
Lalu, anak lelaki tanamkan kepemimpinan dan tanggung jawab, seperti menjaga adik-adiknya. Kemudian tanamkan kekuatan jiwa dan ketabahan, misalnya saat sakit beri motivasi kesabaran.
Jangan lupa berikan contoh keteladanan dari kisah-kisah pahlawan Islam dan para nabi juga rasul. Di sana banyak contoh para lelaki yang luar biasa. Alangkah baiknya bila ayahbunda membacakan kisah itu sembari mengulas sikap mereka sebagai lelaki yang mulia

  • Ustad. Bagaimana sikap/ cara kita selaku orang tua untuk mngatasi anak yang suka menjawab/melawan org tua? kita bicara 1 anak sudah menjawab 10?

Pertama, bila ayahbunda ingin menegur/menasihati mereka, maka duduklah berhadapan, tatap wajahnya lekat-lekat, tegas tapi bukan untuk menyakiti. Sebelum bicara, sampaikan kalimat, “Ayah/bunda mau bicara, abang/adik dengarkan dulu ya, jangan potong pembicaraan ayah/bunda”

Kedua, beri ia kesempatan untuk bicara. Caranya ketika ia akan membantah, maka ingatkan lagi aturan pertama. Ketika nanti ayahbunda telah selesai memberikan teguran, beri ia kesempatan untuk bicara.
Lakukan ini terus berulang-ulang agar ia paham bahwa ia punya kesempatan untuk bicara, tapi bukan pada saat ayahbundanya bicara.

Ketiga, di saat santai, ajak ia ngobrol dan ingatkan adab tidak memotong pembicaraan orangtua, atau tidak membantah omongan orangtua. APalagi bila nasihat itu baik dan benar, alangkah baiknya seorang anak menyimak

  • Ustadz, bagaimana hadapi anak yang suka mengambil barang temannya?

Pertama, ingatkan anak bila perbuatannya itu tidak baik, tidak disayang Allah. Orangtua pasti sedih bila tahu anaknya suka mengambil barang milik orang lain, begitu pula kawan-kawan pasti tak mau bergaul dengan anak yang suka mengambil barang orang lain.

Kedua, tanya apa motifnya mengambil barang milik kawannya. Kadangkala ada anak mengambil barang kawannya, seperti uang, karena merasa uang jajannya kurang. Untuk itu, ayahbunda perhatikan kebutuhan jajan anak dengan baik, apakah memadai atau tidak. Sesekali tak mengapa anak diberi jajanan selama halal dan thayyib.
Ayahbunda perlu peka dengan keadaan anak yang suka mengambil barang kawannya, perlu memahami motif anak dan sering mengingatkan ia akan perbuatan tidak baik tersebut.

Alhamdulillah ya ayah bunda ini adalah beberapa tips dalam mendidik anak. semoga bermanfaat ayah bunda.

TINGGALKAN KOMENTAR

Hubungi Kami

Join Us on FB